Jum’at, 12 Februari 2010 , 00:18:00

TASIKMALAYA, (PRLM).- Sidang kasus dugaan penggelapan dana bantuan sosial (Bansos) yang mengundang kontroversi baru pertama kali disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tasikmalaya, dengan terdakwa Ajengan Dudung Abdul Rohman (46).

Sidang yang mengundang simpati para pengunjung itu menjadikan Ajengan Dudung selaku terdakwa kasus penggelapan dana bantuan sosial untuk kelompok tani di kampungnya sebesar Rp 1.145.000. Ironisnya, ia sendiri tak pernah menikmati uang itu karena sudah disalurkan untuk membeli pupuk kimia dan organik.

Sidang kasus kontroversi yang diketuai Majelis Hakim, Absoro, SH dan digelar di Pengadilan Negeri Tasikmalaya, Kamis (11/2). Pada sidang itu mengundang perhatian kalangan pondok pesantren serta para mahasiswa. Di antaranya hadir Ketua Bidang Litbang Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Tasikmalaya (FSPPT), Taufikrohman, serta Presiden Koalisi Mahasiswa untuk Rakyat Tasikmalaya (KMRT), Jamaludin.

Dalam persidangan tersebut terungkap, Ajengan Dudung bersama anggota kelompok tani lainnya mendapat kucuran dana hibah dari pemerintah pusat Rp 4.570.000 tahun 2008. Dana itu lantas dipotong oleh UPTD Pertanian Padakembang sebesar Rp 3.240.000 dengan alasan untuk pembelian benih dan uang administrasi.

Sisa uang yang Rp 1.330.000 masih dipotong lagi Rp 300.000 untuk biaya berbagai acara rapat.

Dana bantuan yang tinggal Rp 1.030.000 itu kemudian dialokasikan untuk pembelian urea Rp 120.000, pupuk MPK Rp 525.000 dan pupuk organik Rp 500.000, sehingga jumlahnya mencapai Rp 1.145.000.

Karena jumlah itu dirasa kurang, Ajengan Dudung berencana akan memberikan uang tambahan agar mencukupi. Namun karena saat itu musim sedang tidak bersahabat, lalu masa tanam akhirnya ditunda. Pada saat itulah, Ajengan Dudung atas seizin anggota kelompok tani menggunakan dahulu uang itu untuk membayar cicilan sepeda motor miliknya.(A-14/A-50)***

sumber: http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=127295