Korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) Disdik Kota Tasikmalaya

TASIK, (KP).-
Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tasikmalaya mulai memeriksa ke 19 rekanan dan penerbit terkait kasus dugaan korupsi Dana Alokasi Khusus (DAK) di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Tasikmalaya, Rabu (21/3). Dari surat pemanggilan yang disebar sejak minggu lalu, baru dua penerbit yang datang untuk dimintai keterangan.
“Rencananya hari ini (kemarin) dan besok (hari ini—red) kita mintai keterangan dari penerbit dan rekanan peserta lelang. Sejak kita sebar undangan minggu lalu, baru dua yang datang,” kata Kasi Pidana Khusus Kejari Kota Tasikmalaya, Ubaydillah ketika ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/3).


Proses menggali keterangan dari 19 rekanan dan penerbit ini, kata dia, sangat penting untuk penyidikan kasus yang menyeret dua pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya menjadi tersangka. Apalagi dari dokumen para rekanan dan penerbit, terdapat kejanggalan terkait tidak diloloskannya beberapa rekanan.
“Keterangan dari para penerbit dan rekanan ini bisa membuka fakta baru kasus dugaan korupsi DAK 2010. Apalagi masih banyak fakta yang belum terungkap,” katanya menjelaskan.
Terkait ketidakhadiran sisa rekanan dan penerbit yang tidak datang kemarin, Ubay mengatakan, akan melayangkan surat panggilan kedua. Pasalnya, kasus dugaan korupsi tersebut tidak menutup kemungkinan ada tersangka baru.
“Kita lihat saja keterangan dari mereka. Karena setelah proses ini selesai, kita mungkin bisa memeriksa para tersangka,” ujarnya.
Informasi yang dihimpun “KP”, DAK Pendidikan tahun 2010 yang diterima Kota Tasikmalaya senilai Rp 8,4 miliar tersebut dibagi ke dalam beberapa proyek, di antaranya proyek pengadaan buku untuk SD, proyek pengadaan buku untuk SMP, proyek pengadaan buku untuk alat peraga kesenian SMP, dan proyek pengadaan alat peraga olahraga untuk SMP. Dalam proyek DAK Pendidikan tahun 2010 tersebut ada beberapa ketidaksesuaian antara tender dengan hasilnya. Di antaranya datangnya barang tidak tepat waktu atau melebihi jatuh tempo.
Dirusak
Sementara itu, tenda yang dibangun Gerakan Masyarakat Minoritas (Geram) di depan Kejari Kota Tasik dirusak oleh orang tak dikenal. Bentangan spanduk berupa dukungan penyelesaian tiga kasus korupsi juga dalam kondisi berserakan. “Kami menduga ini dilakukan oleh orang-orang bayaran. Dan kejadian ini memicu kami untuk terus berlanjut,” kata Koordinator Geram, Rama Pramadia dalam pesan singkatnya.
Pihaknya juga menuntut Kepala Kejari yang baru, Suleman Hadjarati segera melimpahkan kasus dugaan korupsi DAK 2010, Kube 2010 dan Bulog. Aksi “stasioner” ini juga akan terus diperpanjang sebagai bentuk keseriusan dalam mendukung penyelesaian kasus korupsi di Kota Tasikmalaya.
“Kita akan pantau dan kawal hingga tuntas. Sehingga mengetahui seberapa serius Kajari baru dalam menangani kasus korupsi di Tasik,” katanya. Inu***

Author : Moch. Ridwan

Sumber: http://www.kabar-priangan.com/news/detail/3711