Pusat Penerangan (Puspen) TNI, Selasa, 28 Februari, menyelenggarakan rapat koordinasi penerangan (Rakorpen) TNI Tahun 2012. Rakorpen ini baru diselenggarakan kembali, setelah hampir tiga tahun, tidak dilakukan. Rakor dibuka oleh Kasum TNI Letjen TNI J Suryo Prabowo di Aula Gatot Subroto, Cilangkap, Jakarta-Timur.

Sedikitnya 98 orang peserta hadir dalam rakor itu.Mereka terdiri dari 18 orang dari Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan RI, 47 orang TNI Angkatan Darat, 20 orang TNI Angkatan Laut, 23 orang TNI Angkatan Udara, dan enam orang sebagai peninjau. Mereka adalah Kepala Penerangan Kodam, Korem, dan Asintel diseluruh Indonesia.

Dalam rakor itu, peserta mendapat pengarahan dari Chief Editor Kompas Rikard Bagun dan Rosiana Silalahi. Rosi menceritakan cara berkomunikasi para petinggi militer Amerika Serikat kepada media massa. Selain itu, acara diisi dengan pembekalan dari Asintel Panglima TNI Mayjen TNI Tisna Komara, Kapuskom Publik Kemhan RI Brigjen TNI Hartind Asrin, Kapuspen TNI Laksamana TNI Iskandar Sitompul, Kadispen TNI AD Brigjen TNI Wiryantoro, Kadispen TNI AL Laksma TNI Untung Suropati dan Kadispen TNI AU Marsma TNI Azman Yunus.

Tujuan diselenggarakan Rakorpen ini adalah untuk mengkoordinasikan pelaksanaan tugas dibidang penerangan dengan maksud mendapat kesatuan persepsi, implementasi dan sinergitas antar komuniti penerangan TNI dalam pelaksanaan tugasnya.

Rikard Bagun, dalam Materi Rakorpen TNI Tahun 2012, mengatakan, media massa termasuk ruang publik yang perlu diperebutkan dalam pengertian positif, termasuk oleh TNI. Perlu upaya untuk meraih ruang publik dalam media massa, agar memperoleh efek publikasi dan efek demonstratif atas apa yang hendak disampaikan ke masyarakat luas.

Khusus untuk TNI,sebagai salah satu lembaga strategis negara, ruang dimedia massa sesungguhnya sangat terbuka lebar. Tantangannya tentu saja bagaimana TNI memanfaatkan peluang itu untuk menyebarkan informasi ke kalangannya sendiri, para pemangku kepentingan, atau ke publik.

Tantangan itu, kata Rikard, jangan pula dibesar-besarkan, karena sesungguhnya dari kalangan media massa sendiri membutuhkan informasi dari TNI, untuk diteruskan kepada masyarakat. Sungguh efektif dan efisien jika TNI memanfaatkan media massa dalam menyebarkan informasi, lebih-lebih dalam era kemajuan teknologi komunikasi sekarang ini.“Kalau Panglima TNI, Kasad, Kasal, atau Kasau kunjungan ke daerah, ajaklah wartawan, agar ada kedekatan. Bisa juga dilakukan acara tanam pohon bersama, atau olahraga bersama,” kata pria kelahiran Flores ini.

Apalagi, kata Rikard lagi, media massa antara lain berfungsi sebagai amplifier atas informasi. Amplifikasinya berlipat-lipat, karena kemajuan teknologi Triple M (multimedia, multi-channels dan multiplatform). “Dengan Triple M, informasi dapat disampaikan serempak, seketika, real time, dengan jangkauan sangat jauh,” ujar Rikard.

Informasi yang disampaikan TNI, bisa dalam format teks, foto, suara dan video (multimedia) dengan menggunakan kanal, termasuk satelit (multi channels), yang dapat diterima dengan perangkat televise, radio, kertas, gadget (multiplatform) oleh masyarakat dan para pemangku kepentingan.

Dengan kemajuan teknologi komunikasi, informasi yang sama dapat ditransformasikan ke dalam format media cetak, elektronik dan online.Semuanya itu membutuhkan manajemen tersendiri,”ucapnya. Kemajuan teknologi komunikasi menuntut kecepatan tinggi.”Walau tidak lagi berlari, tetapi sudah terbang, time flies. Begitu cepatnya waktu berlalu, sampai-sampai besok, dianggap hari ini, tomorrow is today, “ kata Rikard.

Tak hanya persepsi waktu yang berubah, tapi juga ruang.Pengaruh kemajuan teknologi komunikasi, telah membuat yang dekat menjadi jauh, dan sebaliknya yang jauh menjadi dekat.Konsep tentang tetangga berubah. Melalui percakapan selular atau skype, lawan bicara diseberang lautan, seperti dekat.Sementara tetangga disamping rumah terasa jauh. Tak jarang, anggota keluarga dalam rumah memanggil anggota keluarga lain dilantai dua, dengan komunikasi seluler.

Sekalipun persepsi ruang dan waktu berubah ditengah kemajuan teknologi komunikasi, prinsip dasar pengelolaan media massa yang menekankan kehati-hatian, akurasi dan keseimbangan, harus tetap dipegang teguh. Tidak bisa dengan alasan tekanan waktu, berita dilepaskan ke masyarakat begitu saja, tanpa diolah secara matang dan bertanggung jawab.

Semangat mencari kebenaran, searching the truth, harus diutamakan, sehingga substansi lebih ditekankan, ketimbang sensasi. Informasi yang disampaikan ke publik perlu diramu secara professional, dibuat dengan menjunjung tinggi etika dan dilandasi semangat mencari kebenaran.Prinsip ini juga berlaku dalam masalah keterbukaan informasi.

Masalah keterbukaan informasi publik, lanjut Rikard, sudah ditegaskan dalam Undang-Undang No 14 Tahun 2008. TNI sebagai salah satu institusi strategi negara, wajib melaksanakan UU Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) itu. Namun, barangkali perlu diingatkan pula, pengertian keterbukaan dalam informasi publik, bukanlah penelanjangan (naked) informasi, tapi lebih sebagai transparansi informasi.

Sungguh berbahaya jika informasi yang relevan diberikan kepada pihak yang tidak relevan, atau sebaliknya informasi yang tidak relevan diberikan kepada pemangku kepentingan yang relevan. Berdasarkan pertimbangan itu, keterbukaan informasi public oleh TNI, perlu mengacu pada azas transparansi, dengan terus membangun komunikasi yang sinergis dengan media massa.

Sumber: http://media.kompasiana.com/new-media/2012/02/28/keterbukaan-informasi-publik-bukanlah-penelanjangan/