Oleh : Febri Diansyah
Peneliti Hukum ICW

 

Mantan petinggi Partai Demokrat, Angelina Sondakh bersaksi di Pengadilan Tipikor untuk kasus yang menjerat mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin. Ia mengatakan tidak mengetahui istilah “apel malang”, “apel washington” dan “semangka” yang sempat muncul dalam komunikasi via bbm dengan Rosa. Bahkan, ia bilang tahun 2009 itu, ia belum punya gadget yang jadi salah satu petunjuk di persidangan tersebut. Suaranya terdengar sumbang.

Dari balik siaran langsung televisi swasta, terlihat ekspresi Angelina yang tenang. Seolah mantan Putri Indonesia itu sudah mengerti apa dan bagaimana pertanyaan yang akan diajukan di persidangan. Berbaju putih, dengan rambut terikat dan kacamatanya, ia sempat membuat tensi jaksa, penasehat hukum dan bahkan hakim agak meninggi.

Tampaknya ia mengerti, di mana dan kapan ia harus membantah pernah berkomunikasi menggunakan Blackberry. Pertanyannya, sejauh mana kesaksian yang diragukan sejumlah pihak tersebut mengancam penuntasan kasus Nazaruddin?

Jembatan
Beberapa saat sejak Mindo Rosalina Manulang ditangkap KPK bersama El Idris dan Wafid Muharam di kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga (April 2011) mulai tercium aroma menyengat aliran dana ke politisi. Meskipun informasinya sempat kabur, diwarnai pergantian pengacara dan pencabutan keterangan Rosa di berita acara pemeriksaan, bayangan tentang pihak-pihak yang terlibat sudah mengemuka.

Hal itu menguat ketika persidangan Rosa dan El Idris. Keterangan saksi demi saksi mengurai konstruksi kasus ini. Ada tiga bangunan besar yang tidak bisa dipisahkan satu dan lainnya.

Pertama, proses “pembelian” proyek ke Senayan dan Kementerian. Yulianis mengakui Group Permai sudah mengeluarkan dana Rp16 miliar untuk menggiring proyek tersebut. Dalam perkembangannya, terjadi pengembalian Rp10 miliar.

Saat persidangan Rosa berjalan, kita belum tahu persis dalam konteks apa pengembalian Rp10 miliar tersebut. Kemudian baru terungkap saat Yulianis memberikan kesaksian di persidangan Nazaruddin. Ternyata pengembalian itu terkait dengan gagalnya Nazar mendapatkan proyek Hambalang untuk PT. DGI. Inti dari poin pertama ini adalah, aliran dana dari Group Permai ke DPR.

Konstruksi kedua, fee proyek yang dibayarkan oleh PT. DGI pada Group Permai sebesar 14%, dengan catatan saat itu El Idris baru mengeluarkan 13% dari nilai proyek, yang untuk pencairan termin I diberikan Rp4,675 Miliar.

Konteks fee tersebut terkait dengan pemenangan PT. DGI dalam proyek pengerjaan Wisma Atlet di Jakabaring, Palembang. Bahkan, pihak PT DGI di persidangan mengakui, pemberian fee proyek hampir menjadi kewajaran sejak lama.

Sedangkan konstruksi ketiga adalah penggunaan dana fee proyek yang dikumpulkan pada sebuah brankas di Group Permai. Terungkap di persidangan, dana brankas mengalir ke sejumlah pihak. Mulai dari perorangan politisi, kongres partai demokrat, pembelian sejumlah aset dan pembelian saham Garuda Airways Indonesia. Khusus yang terakhir, KPK sudah menjadikan Nazaruddin sebagai tersangka dengan jerat UU Pencucian Uang.

Untuk memahami konstruksi yang terkait dengan dugaan keterlibatan Angelina Sondakh, yang sudah diumumkan sebagai tersangka oleh KPK, kita perlu membaca bangunan utuh kasus Nazaruddin, dan kemudian fokus pada konstruksi pertama.

Kenapa? Karena menurut keterangan Rosa dan Yulianis diduga Angelina berperan sebagai penghubung ke Senayan. Sejumlah komunikasi dengan Mindo Rosalina Manulang melalui bbm menunjukkan bahwa Angelina berperan sebagai perantara.

Kita belum tahu pasti, apakah ia sudah menikmati sejumlah dana, atau hanya menjadi “jembatan” untuk memenuhi jatah “bos besar”, “ketua besar” atau bahkan mengatur pembagian untuk “teman-teman” di DPR. Akan tetapi, tidak bisa dibayangkan jika peran “jembatan” ini gagal dibuktikan oleh KPK.

Tidak berlebihan rasanya, jika kita perlu sedikit khawatir mengingat di persidangan Rabu, 15 Februari 2012, Angelina memberikan keterangan yang sebaliknya dari apa yang sudah pernah muncul di keterangan saksi-saksi lain.

Bahkan, Angelina juga mengatakan tidak pernah menyebut nama Anas Urbaningrum melalui bbm dengan Rosa. Justru menegaskan, ia belum memiliki Blackberry pada tahun 2009. Soal “bos besar”, “ketua besar” tentu juga demikian. Artinya, jika tidak ada upaya ekstra yang dilakukan oleh KPK dan Hakim, kita khawatir arus akan berbalik dan kasus ini tak pernah tuntas.

Akan tetapi, jika dicermati dari sejumlah fakta-fakta yang muncul di persidangan dan dokumen yang terkait kasus ini, sesungguhnya masih ada banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh KPK. Seperti, membuktikan pertemuan antara Nazaruddin, Angelina Sondakh, dan Rosa pada Januari 2010  di Nippon Kan Restaurant Hotel Sultan terkait dengan proyek Kemenpora; komunikasi Rosa dan Nazaruddin via bbm yang menyebut nama Angelina; komunikasi Rosa dengan Angelina di sepanjang tahun 2010 hingga 2011; kesaksian Rosa, Yulianis, Jefry, dan keterangan terdakwa Nazaruddin.

Selain itu catatan pembukuan Yulianis juga bernilai penting, yaitu yang terdapat pada pembukuan dengan nomor kode pengajuan: MK1/10/11/0602 tanggal 6 November 2011 senilai USD 500 ribu (kurs Rp8.925). Selain itu, dengan dasar UU No. 31/1999 jo UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, KPK juga bisa meminta tersangka untuk membuktikan asal-usul kekayaan diri dan keluarganya.

Jika publik saja bisa melihat sejumlah peluang bukti dan hukum yang bisa digunakan oleh KPK, tentu seharusnya sebagai penegak hukum yang mempunyai kewenangan lebih, KPK bisa lebih kuat melawan jika ada upaya rekayasa dan kebohongan saksi atau terdakwa di persidangan.

Di titik ini, kita perlu memberikan catatan kritis terhadap jaksa KPK yang terlihat tidak optimal mengejar dan menguji silang fakta-fakta yang muncul di persidangan.

Jaksa sebagai otoritas menuntut dan diberikan posisi mewakili kepentingan publik harus memastikan bahwa “nyanyian sumbang” Angelina Sondakh di persidangan Rabu (15/2) lalu tidaklah mengancam penuntasan skandal korupsi politik nan dahsyat ini. Mengingat, kasus yang diduga terkait dengan perusahaan-perusahaan Nazar tidaklah hanya Wisma Atlet.

Sumber : http://www.beritasatu.com/blog/nasional-internasional/1404-menyangkal-sangkalan-angie.html